TARAKAN – Pengurus Provinsi (Pengprov) Wushu Indonesia (WI) Kalimantan Utara (Kaltara) tengah mempersiapkan 13 atlet terbaiknya untuk mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri yang akan digelar pada Oktober mendatang di Kudus, Jawa Tengah. Namun, hingga kini, kepastian jumlah atlet yang akan diberangkatkan masih menunggu keputusan dari KONI Kaltara terkait anggaran.
Hal tersebut disampaikan Ketua Harian Pengprov WI Kaltara, Hendra Radiyanto.Ia menyebutkan, dari 13 atlet yang disiapkan, 11 di antaranya akan turun di nomor Sanda, yakni 7 putra dan 4 putri. Dua lainnya berasal dari kategori berbeda, namun fokus utama tetap pada Sanda karena peluang medali dinilai lebih besar.
“Kita sudah siapkan 13 atlet, tapi fokus kita di Sanda. Dari jumlah itu, 11 atlet kita siapkan untuk nomor Sanda, karena di situlah peluang terbesar kita,” ujar Hendra, Selasa (9/9).
Meskipun atlet sudah mulai menjalani latihan secara rutin, namun belum dilakukan secara efektif karena belum adanya kejelasan dari KONI mengenai jumlah atlet yang disetujui untuk diberangkatkan ke Kudus.
“Yang bikin kita bingung, sebelas atlet ini sudah siap, sudah latihan, bahkan beberapa sudah minta izin dari instansi atau kampusnya. Tapi kalau ternyata dibatalkan karena anggaran, kan kasihan mereka,” tambahnya.
Latihan atlet Wushu Kaltara saat ini tersebar di tiga lokasi. Sebagian besar berlatih di Tarakan, sementara beberapa lainnya berada di Sasana Gladiator milik Hendra di Tangerang, dan satu atlet tengah menjalani latihan di Jawa Timur karena sedang menempuh pendidikan di sana.
“Yang di Jawa Timur itu karena kuliah, tapi kalau memang nanti tidak memungkinkan, bisa saja kita coret. Semua tergantung dari hasil akhir rapat dan keputusan KONI,” jelasnya.
Pemilihan atlet berdasarkan hasil seleksi serta evaluasi performa mereka di kejuaraan sebelumnya, termasuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Surabaya.“Ada beberapa yang jadi juara di Kejurnas Surabaya kemarin. Dari situ kita lihat peluang. Kita tidak asal pilih. Kita pertimbangkan hasil dan kesiapan,” terang Hendra.
Wushu Kaltara tidak akan menurunkan atletnya di nomor Taolu (seni) karena keterbatasan sumber daya manusia, terutama wasit bersertifikasi seni.
“Kita memang tidak ikut nomor seni. Kita tidak punya wasit seni. Di Sanda kita punya wasit dan lebih paham penilaian. Di nomor seni itu terlalu subjektif menurut kami,” ungkapnya.
Hendra juga menjelaskan bahwa regulasi usia di PON Bela Diri kali ini menjadi tantangan tersendiri. Jika sebelumnya batas maksimal usia atlet adalah 36 tahun, kini diturunkan menjadi 30 tahun. Akibatnya, beberapa atlet senior yang sebelumnya menjadi andalan tidak bisa ikut bertanding.
“Contohnya Sherly dan Trisakti, dua atlet senior kita. Tapi karena usianya lewat dari 30 tahun, mereka kemungkinan besar tidak bisa ikut. Jadi memang banyak perombakan dari segi personel,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, Hendra menyatakan optimisme dan berharap KONI Kaltara segera memberikan kepastian, baik dari sisi teknis maupun anggaran, agar para atlet bisa fokus latihan dan mempersiapkan diri secara maksimal.
“Kita siap tancap gas kalau sudah ada kepastian. Tapi kalau harus biaya mandiri, itu tentu jadi pertimbangan tersendiri bagi atlet dan orang tuanya. Kita berharap KONI bisa mendukung penuh,” tutupnya. (adm)





