KONI Kaltara Selektif Kirim Atlet ke PON Bela Diri 2025

Wakil Ketua Umum I KONI Kaltara, Wiyono Adie

TARAKAN – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Utara (Kaltara) memastikan akan mengirimkan kontingen untuk mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela diri 2025 yang akan digelar di Kudus dan Solo, Jawa Tengah.

Namun karena keterbatasan anggaran dan regulasi yang ketat, KONI Kaltara menerapkan sejumlah syarat dan strategi ketat dalam seleksi atlet dan cabang olahraga (cabor) yang diberangkatkan.

Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Umum I KONI Kaltara, Wiyono Adie. Dari total 10 cabor bela diri yang dipertandingkan di PON Beladiri 2025, KONI Kaltara saat ini mengusulkan keikutsertaan dalam 7 cabor.

Namun, menurut Wiyono, jumlah ini masih bisa berubah, tergantung pada validasi data dan verifikasi dari pengurus besar masing-masing cabor.

“Dari 10 cabor yang dipertandingkan, dua sudah kedaluwarsa dan satu masih tanda tanya. Jadi untuk sementara kita kunci di 7 cabor,” ujarnya.

Cabor yang diusulkan antara lain sambo, pencak silat, taekwondo, wushu, dan kempo. Cabor seperti karate dan wushu sendiri masih dalam status pertimbangan karena belum memenuhi syarat administratif.

Baca juga  Kaltara Daftarkan 72 Atlet dari 8 Cabor untuk PON Bela Diri 2025

KONI Kaltara juga menegaskan bahwa cabor yang dapat diikutkan harus memiliki minimal tiga pengurus di tingkat kabupaten/kota, sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) KONI, serta keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga.

Sementara itu, seluruh atlet yang diberangkatkan wajib memiliki KTP Kaltara. Hal ini, kata Wiyono, merupakan komitmen daerah untuk memprioritaskan pembinaan atlet lokal.

“Kita sudah sepakat bahwa yang dikirim adalah atlet yang benar-benar berasal dari Kaltara. Dibuktikan dengan KTP Kaltara. Tidak ada lagi istilah ‘atlet dadakan’ dari luar yang tiba-tiba dipakai,” tegasnya.

Kebijakan ini, lanjutnya, juga diberlakukan sejak ajang Porprov Kaltara pertama dan kedua sebagai bagian dari pembangunan sistem pembinaan olahraga yang berkelanjutan dan adil.

Karena keterbatasan anggaran, KONI Kaltara juga akan menerapkan seleksi ketat terhadap atlet yang akan diberangkatkan. Hanya mereka yang memiliki rekam jejak prestasi yang akan diprioritaskan.

Baca juga  KONI Kaltara Lakukan Persiapan Jelang Rakerprov Mei Mendatang

“Yang diutamakan adalah atlet yang lolos ke PON Aceh–Sumut, kemudian yang punya prestasi di tingkat regional dan nasional, tapi event-nya harus diselenggarakan oleh PB atau PP (pengurus besar/pusat) resmi. Kalau bukan, maka itu sifatnya opsional,” jelasnya.

Selain itu, entry by name sudah diajukan oleh masing-masing cabor sesuai usulan. Namun, jumlah yang benar-benar diberangkatkan akan bergantung pada besaran dana dari ABT (Anggaran Belanja Tambahan).

Persiapan menuju PON juga dilakukan secara desentralisasi, artinya masing-masing cabor bertanggung jawab penuh atas pelatihan dan pemusatan latihan (TC) atletnya.

“Karena PON ini jatuh di tengah siklus anggaran, kita tidak bisa membiayai sentralisasi. Cabornya yang harus mandiri untuk TC,” kata Wiyono.

KONI hanya akan memfasilitasi keberangkatan dengan pembiayaan seminimal mungkin: transportasi, akomodasi, konsumsi, pelatih, dan manajer.

“Rasio pelatih adalah 1 untuk setiap 5 atlet. Tidak ada ofisial tambahan. Hanya pelatih dan manajer. Manajer pun harus paham operasional dan pengambilan kebijakan teknis,” imbuhnya.

Baca juga  DPD SePOI Kaltara Dukung Tegas Sikap Kapolri: Polri Harus Tetap di Bawah Presiden

Meski belum menetapkan target jumlah medali, KONI Kaltara menekankan pendekatan “spot intelligence” untuk memetakan kekuatan lawan dan peluang kemenangan.

“Kita lihat juga kekuatan lawan dari provinsi lain, atlet yang dikirim, waktu pembinaan, dan sebagainya. Jadi target tetap ada, tapi kita tidak pasang beban dulu, karena jumlah atlet pun belum bisa dipastikan,” jelasnya.

Wiyono menggarisbawahi bahwa seluruh strategi ini diambil untuk menyesuaikan kondisi anggaran yang terbatas, tanpa mengorbankan kualitas dan integritas pembinaan atlet lokal.

Kontingen Kaltara akan diberangkatkan secara bertahap, sesuai jadwal tanding masing-masing cabor. Tidak ada pemberangkatan serentak. KONI Kaltara juga berencana menggelar rapat teknis lanjutan dengan seluruh cabor setelah kepastian anggaran ditetapkan. Rapat ini akan menentukan jumlah atlet, pelatih, dan jadwal final keberangkatan.

“Misalnya silat main tanggal 7 Oktober, ya berangkat lebih awal. Kalau cabor lain mulai tanggal 14, ya berangkatnya belakangan. Sama seperti PON biasa,” pungkasnya. (adm)

Bagikan:

APA YANG ANDA CARI?