Rudi Mangunsong Soroti Evaluasi Berau Fishing Tournament 2025: Promosi Wisata Oke, Keselamatan & Kelestarian Laut Harus Diperkuat

BERAU – Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi Mangunsong, memberikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Berau Fishing Tournament Bupati Cup 2025 yang digelar di Pulau Derawan, akhir pekan lalu.

Setelah enam tahun vakum sejak 2019, gelaran ini kembali menjadi magnet bagi para angler dari berbagai wilayah.

Meski demikian, Rudi tidak menutup mata terhadap sejumlah kekurangan dalam penyelenggaraan perdana setelah lama absen tersebut. Menurutnya, riak protes dari peserta tidak bisa dihindari, terutama terkait regulasi yang diterapkan panitia.

“Namanya pertandingan, tentu ada aturan main. Ini event pertama setelah vakum lama, peserta mungkin belum terbiasa sehingga timbul kekecewaan,” tuturnya.

Rudi—yang juga dikenal sebagai pencinta olahraga mancing—mendorong agar konsep penyelenggaraan diperbaiki secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa turnamen ini tidak hanya sekadar menyalurkan hobi, tetapi menjadi bagian penting dari promosi sport tourism Berau.

Baca juga  Rudi Dorong Penguatan Internet di Destinasi Wisata untuk Dukung Ekonomi Digital

“Lomba mancing ini bagian dari pariwisata bahari kita. Sesuai komitmen Bupati, idealnya event ini digelar rutin setiap tahun,” tegasnya.

Salah satu fokus evaluasi Rudi adalah soal keselamatan kapal dan perlengkapan yang digunakan peserta. Ia meminta panitia bekerja sama lebih erat dengan pemilik kapal agar memastikan armada yang digunakan memenuhi standar keselamatan, mulai dari alat navigasi hingga perlengkapan darurat.

“Keselamatan peserta harus menjadi prioritas. Standar keamanan kapal penting, bukan hanya untuk event tahunan, tapi juga untuk pemilik kapal yang melayani trip mancing harian,” jelasnya.

Baca juga  Operasional Pelabuhan Rakyat Disetop Sementara, DPRD Tarakan Dorong Langkah Alternatif bagi Puluhan Pekerja

Menurut Rudi, peningkatan standar keselamatan justru membuka peluang ekonomi bagi nelayan pemilik kapal. Dengan layanan yang lebih profesional, permintaan sewa kapal untuk aktivitas memancing dapat meningkat.

“Setiap akhir pekan bahkan hampir setiap hari ada yang sewa kapal. Tarifnya bisa jutaan rupiah sekali trip. Ini peluang pendapatan tambahan bagi nelayan,” katanya.

Rudi juga menyoroti fenomena merosotnya hasil tangkapan peserta dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurut pengamatannya, penurunan ini merupakan tanda serius berkurangnya sumber daya ikan di perairan Berau.

“Kita lihat langsung, hasil tangkapan jauh menurun meski peserta menggunakan teknologi modern. Ini indikasi kuat bahwa sumber daya ikan kita sedang tertekan,” tegasnya.

Baca juga  Geliatkan Ekonomi Kreatif, Arman Nofriansyah Adakan Lomba Burung Nasional

Ia menduga faktor utama penurunan tersebut berkaitan dengan praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan alat tangkap destruktif atau aktivitas illegal fishing.

“Ini harus jadi perhatian. Teknik tangkap yang merusak atau aktivitas ilegal bisa memperparah kondisi laut. Pemerintah, dinas terkait, dan aparat penegak hukum harus meningkatkan pengawasan,” ujarnya.

Rudi berharap turnamen mancing di Berau tidak hanya berhenti sebagai ajang kompetisi semata. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk mengedukasi masyarakat dan pelaku wisata mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

“Turnamen ini harus menjadi pengingat bahwa laut memiliki batas. Kita semua wajib menjaga kelestariannya,” pungkasnya. (rn/adv)

Bagikan:

APA YANG ANDA CARI?