HIPMI Kaltara Jadi Pelopor Sertifikasi Chef, Targetkan Standar Baru Dapur SPPG

TARAKAN – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalimantan Utara kembali menunjukkan peran strategisnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pangan. Tak hanya bicara soal rasa, HIPMI Kaltara kini fokus pada aspek yang jauh lebih krusial: keamanan pangan.Melalui kegiatan Cook and Chef de Partie, HIPMI Kaltara menggelar pelatihan sekaligus uji kompetensi chef bersertifikat di Gedung Sri Tower, Kelurahan Sebengkok, Kota Tarakan, Jumat (7/2/2026). Program ini menyasar para chef yang bekerja di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh wilayah Kalimantan Utara.

Ketua HIPMI Kaltara, Ade Kurniawan, menegaskan bahwa sertifikasi chef bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutlak, khususnya bagi dapur yang memproduksi makanan dalam skala besar.

“Cooking Chef ini merupakan lembaga sertifikasi di bawah BNSP yang memang ditugaskan mencetak chef-chef kompeten dan bersertifikat. Salah satu syarat utama pengelolaan SPPG adalah memiliki chef yang sudah tersertifikasi,” ujarnya.

Baca juga  SKK Migas Hadir sebagai Narasumber pada Kelas Inspirasi di SRT 24 Samarinda

Menurut Ade, hingga kini Kalimantan Utara belum memiliki lembaga sertifikasi chef sendiri. Kondisi tersebut mendorong HIPMI Kaltara mengambil peran sebagai pelopor.

“Kami ingin memastikan chef-chef di Kaltara memiliki standar yang sama, baik dari sisi keterampilan memasak maupun pengelolaan dapur yang higienis dan aman,” jelasnya.

Sebanyak 24 peserta mengikuti kegiatan ini, dengan sekitar 90 persen di antaranya telah memiliki dapur operasional. Peserta berasal dari berbagai daerah, seperti Tarakan, Bulungan, Nunukan, Sebatik, hingga Malinau.

Saat ini, HIPMI Kaltara mengelola 24 dapur SPPG, dengan 16 dapur sudah beroperasi. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 75 dapur SPPG di Kalimantan Utara, sehingga kontribusi HIPMI mencapai hampir 30 persen. Meski demikian, Ade mengungkapkan tantangan besar lainnya, yakni minimnya tenaga ahli gizi lokal.

Baca juga  Pertamina Tegaskan Kualitas Pertamax Sesuai Spesifikasi

“Yang paling sulit justru ahli gizi. Hampir semuanya masih dari luar daerah. Idealnya lulusan S1 supaya bisa P3K,” katanya.

Asesor kegiatan, Chef Bambang Murtianto, menekankan bahwa kompetensi chef tidak hanya diukur dari kelezatan masakan, tetapi juga dari pemahaman terhadap manajemen keamanan pangan.

“Masak itu bukan cuma soal enak. Dari pembelian bahan, penyimpanan, proses memasak, sampai pasca-masak harus benar,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, banyak kasus keracunan makanan di daerah terjadi bukan karena bahan baku yang buruk, melainkan kesalahan dalam teknik pengolahan dan penanganan makanan setelah matang.

“Masakan besar seperti sayur atau capcay kalau dibiarkan lama tanpa pendinginan yang benar bisa rusak dan jadi media tumbuh bakteri. Ini yang sering tidak disadari,” jelasnya.

Baca juga  Silaturahmi Penuh Keakraban, Warga Kampung Baru Bahas Masa Depan Lahan Mereka

Chef Bambang menambahkan, dalam produksi skala besar, memasak harus dilakukan bertahap dan disertai proses pendinginan sebelum makanan dikemas atau disajikan.Dalam uji kompetensi, terdapat empat indikator utama penilaian, yakni faktor manusia (pengetahuan dan skill), kualitas bahan baku, kebersihan peralatan, serta proses pasca-masak.

“Kalau ini tidak dipahami, potensi keracunan akan terus berulang,” ujarnya.

Salah satu peserta, Riri Syahputri, mengaku memperoleh banyak ilmu baru dari pelatihan ini. Meski berlatar belakang sarjana komputer, ia memilih menekuni dunia memasak karena passion.

“Saya memang suka masak dan belajar catering. Alhamdulillah di sini dapat banyak pengalaman dan ilmu,” katanya.

Riri berharap dapat ditempatkan di daerah asalnya, Pulau Bunyu, untuk membangun tim dapur yang solid. Namun, ia menyatakan siap ditempatkan di mana pun.

Bagikan:

APA YANG ANDA CARI?