DPRD Berau Soroti Kisruh TPP Tenaga Kesehatan: Feri Kombong Ingatkan Pemkab Tak Tutup Mata

Anggota Komisi I DPRD Berau, Feri Kombong.

BERAU – Polemik Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi tenaga kesehatan (nakes) di RSUD dr. Abdul Rivai Berau kembali mencuat. Masalah yang sempat tenggelam ini kini mendapat perhatian serius dari Komisi I DPRD Berau, yang membidangi urusan kesehatan.

Anggota Komisi I DPRD Berau, Feri Kombong, mengaku telah menindaklanjuti keluhan para nakes yang mengaku belum mendapat kejelasan soal pembayaran TPP. Ia menyebut, persoalan tersebut sudah dibahas dalam pertemuan bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) dan manajemen RSUD dr. Abdul Rivai.

Baca juga  Kaltara Usulkan 1.468 Formasi CASN 2024, Prioritaskan Honorer dan Tenaga Kontrak

“Tadi sempat kami tanyakan juga soal TPP ini. Dinkes dan pihak rumah sakit sudah memberi penjelasan awal, tapi secara teknis kami akan panggil semua pihak terkait untuk mendapatkan kejelasan yang utuh,” ujar Feri saat ditemui.

Feri menilai, permasalahan TPP bagi nakes bukan hal baru. Isu serupa kerap terjadi di berbagai daerah, namun penyelesaiannya bergantung pada komitmen pemerintah daerah masing-masing.

“Masalah TPP ini bukan hanya di Berau, tapi juga di banyak daerah lain. Namun, bisa jadi persoalan ini juga menjadi alasan kenapa dokter atau tenaga medis di Berau tidak betah. Itu fakta yang tidak bisa kita pungkiri,” tegasnya.

Baca juga  BUMD Berau Terancam Mati Suri, DPRD Desak Inovasi di Tengah Pemangkasan Anggaran

Politikus yang dikenal vokal di bidang kesehatan itu mendesak Pemkab Berau untuk segera menuntaskan persoalan ini. Ia mengingatkan, keterlambatan penyelesaian justru bisa berdampak pada menurunnya kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit daerah.

“Pemerintah daerah tidak bisa menutup mata. Ini soal kesejahteraan orang-orang yang bekerja di garda terdepan pelayanan kesehatan,” katanya.

Baca juga  DPRD Berau Tegur Keras Kontraktor: Stop Proyek Asal Cepat, Kualitas Harus Nomor Satu

Menurut Feri, berbagai keluhan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit mungkin saja berakar dari kesejahteraan tenaga kesehatan yang belum terpenuhi.

“Kadang pelayanan yang dinilai kurang maksimal itu juga karena faktor kesejahteraan. Kalau hak mereka terpenuhi, saya yakin nakes akan bekerja dengan semangat dan memberikan pelayanan terbaik,” pungkasnya. (rn/adv)

Bagikan:

APA YANG ANDA CARI?