TARAKAN – Beberapa hari terakhir, Kota Tarakan dan sekitarnya mengalami cuaca panas dengan suhu mencapai 34 derajat Celcius.
Kepala BMKG Kota Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, memastikan kondisi ini bukan merupakan kemarau ekstrem, melainkan akibat beberapa faktor atmosfer, terutama pengaruh Siklon Tomoe yang sebelumnya melanda Filipina.
“Suhu tertinggi di Tarakan mencapai 34 derajat Celcius, yang masih dalam kisaran normal. Biasanya suhu kita berkisar antara 32 sampai 34 derajat,” ungkap Sulam.
Minimnya intensitas hujan selama seminggu terakhir di Tarakan dan wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) disebabkan oleh Siklon Tomoe yang menggeser massa udara dari Kaltara ke utara Filipina.
Fenomena ini turut menyebabkan angin kencang dan berkurangnya pembentukan awan hujan. Sulam menjelaskan, pada awal minggu lalu gelombang laut sempat cukup tinggi, namun kini sudah kembali normal di kisaran 0,5 hingga 0,7 meter.
Untuk tiga hari ke depan, Kaltara masih berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat, khususnya di wilayah Malinau, Bulungan, dan Nunukan. Namun, durasi hujan diprediksi tidak sepanjang musim hujan sebelumnya, sehingga intensitasnya tidak terlalu signifikan.
“Hujan akan lebih dominan terjadi pada malam hari hingga dini hari,” tambahnya.
Gelombang laut di perairan Kaltara juga diperkirakan tetap rendah, dengan ketinggian antara 0,5 hingga 0,7 meter. Beberapa area tengah perairan bisa mencapai 1 meter hingga 30 Juli. Setelah 1 dan 2 Agustus, gelombang diprediksi semakin menurun.
Meski beberapa daerah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau, Sulam menegaskan bahwa musim kemarau di Kaltara hanya terjadi di tiga lokasi, yaitu Pulau Nunukan, Pulau Sebatik, dan sebagian kecil wilayah Tanjung Palas Timur.
Saat ini, hanya sebagian kecil wilayah Tanjung Palas Timur yang sedang mengalami kemarau.
“Cuaca kering yang terjadi di Tarakan beberapa hari terakhir murni akibat pengaruh Siklon Tomoe yang menarik angin monsun Australia yang kering dan minim uap air. Selain itu, tidak adanya perubahan arah angin di utara juga menghambat pertumbuhan awan hujan,” jelasnya.
BMKG Kaltara juga mencatat adanya dua titik panas kategori menengah di Nunukan dan Bulungan. Meskipun tidak sebanyak daerah lain seperti Kalimantan Barat atau Sumatera, Sulam mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Tanah yang kering selama 3-4 hari sangat mudah terbakar. Kami mengimbau masyarakat, terutama yang melakukan pembakaran, agar lebih berhati-hati mengingat kondisi saat ini sangat rawan,” pungkasnya. (adm)





