RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan Lakukan Tindakan Perdana Digital Subtraction Angiography

Tindakan DSA perdana di wilayah Kalimantan Utara yang dilakukan di RSUD dr. H Jusuf SK.

Tarakan – Bertepatan dengan HUT ke-13 Provinsi Kalimantan Utara, RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan melaksanakan tindakan perdana Digital Subtraction Angiography (DSA), pemeriksaan berteknologi tinggi untuk mendeteksi kelainan pembuluh darah otak, pada Sabtu (25/10/).

Plt Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Budy Azis B., Sp.PK, MH, mengatakan DSA merupakan salah satu program unggulan rumah sakit yang dikembangkan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Program ini diharapkan dapat mengurangi kebutuhan rujukan pasien ke luar daerah.

“Tindakan ini bagian dari upaya agar masyarakat Kaltara tidak perlu lagi berobat keluar daerah yang memerlukan biaya tinggi,” ujarnya.

Pelaksanaan perdana DSA dipimpin oleh dr. Angelika Lestari, M.Biomed, Sp.N, FINA, bersama tim medis RSUD dr. H. Jusuf SK, dengan pendampingan dr. Anthony, Sp.N dari RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. Tindakan dilakukan terhadap dua pasien dengan dugaan stroke akibat gangguan pembuluh darah.

Baca juga  Akhir Tahun 2025, Polda Kaltara Soroti Lalu Lintas, Narkoba, dan Ketahanan Pangan

Menurut dr. Angelika, DSA merupakan metode paling akurat untuk mendiagnosis kelainan pembuluh darah otak secara real time. “Prosedur ini menampilkan pembuluh darah secara detail dengan bantuan sinar-X dan zat kontras, sementara jaringan lain dihilangkan dari citra,” jelasnya.

Dua tindakan berjalan lancar, dengan durasi 30 menit untuk pasien pertama dan sekitar satu jam 15 menit untuk pasien kedua. Hasil pemeriksaan menunjukkan keduanya mengalami sumbatan pada pembuluh darah kecil tanpa kelainan berat, sehingga cukup ditangani dengan obat-obatan.

“DSA menjadi standar emas dalam pemeriksaan pembuluh darah karena memiliki tingkat akurasi tertinggi dan hasilnya bisa langsung diamati,” katanya.

Baca juga  Guna Menjaga Kamtibmas, Ditsamapta Polda Kaltara Gelar Patroli Dialogis

Ia menambahkan, prosedur DSA di Kalimantan Utara baru pertama kali dilakukan, melengkapi fasilitas pemeriksaan otak yang sebelumnya hanya menggunakan MRI, CT Scan, CTA, atau MRA. RSUD dr. H. Jusuf SK juga tengah melakukan proses kepengurusan cakupan BPJS Kesehatan pada layanan ini.

“Pasien pertama usianya 29 tahun dan tindakan berjalan cepat. Tapi pasien kedua, berusia 40 tahun, memiliki hipertensi lama dan berat badan berlebih, sehingga pembuluh darahnya mengalami remodelling dan lebih berliku,” katanya.

Ia menjelaskan, prosedur DSA menggunakan teknologi sinar-X dengan tambahan alat angiografi dan kontras khusus untuk menampilkan pembuluh darah secara detail tanpa gangguan gambar dari jaringan lain.

Baca juga  Polda Kaltara Gandeng Komunikasi Ojol, Bagikan Bendera Merah Putih Jelang HUT RI ke 80

“Istilah subtraction berarti menghilangkan struktur lain di luar pembuluh darah. Jadi hasil yang terlihat benar-benar fokus pada aliran darah di otak,” paparnya.

Dari hasil pemeriksaan, kedua pasien diketahui mengalami sumbatan pada pembuluh darah kecil tanpa adanya pelebaran atau malformasi, sehingga penatalaksanaan cukup dilakukan dengan obat-obatan. “Keduanya tidak ditemukan kelainan berat, jadi cukup terapi obat tanpa tindakan lanjutan,” terangnya.

Menurutnya, DSA menjadi standar emas (gold standard) dalam pemeriksaan pembuluh darah karena memiliki tingkat akurasi tertinggi dan hasil yang bisa diamati secara langsung saat tindakan berlangsung.

“DSA ini tingkat satu (paling baik) dari segi akurasi. Selain itu, pemeriksaannya real-time, sehingga bisa langsung diketahui kondisi pembuluh darah pasien,” pungkasnya. (adm)

Bagikan:

APA YANG ANDA CARI?