BERAU — Wacana penggantian nama Bandara Kalimarau menjadi Bandara Raja Alam Sultan Alimuddin kembali mencuat. Namun Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi Mangunsong, menilai isu tersebut tidak termasuk kebutuhan mendesak daerah dan berpotensi mengalihkan fokus pembangunan.
Rudi menegaskan, di tengah berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian serius mulai dari infrastruktur, layanan publik, hingga penguatan ekonomi polemik nama bandara justru minim urgensi. Ia menilai perubahan nomenklatur tidak akan memberi efek langsung terhadap kualitas layanan ataupun pertumbuhan ekonomi.
“Kalau dipaksakan, kerumitannya justru lebih besar. Biayanya pun tidak sedikit,” ucap Rudi.
Menurutnya, nama Kalimarau sudah mengakar di sistem penerbangan nasional dan internasional, termasuk dalam navigasi, data operasional maskapai, hingga administrasi transportasi udara yang terintegrasi global. Mengubahnya berarti memulai proses panjang yang melibatkan banyak otoritas dan penyesuaian teknis.
“Identitas Kalimarau sudah tercantum di berbagai sistem penerbangan dunia. Mengubahnya bukan sekadar mengganti papan nama. Ini urusan kompleks dan sangat teknis,” tegasnya.
Meski demikian, Rudi menekankan bahwa dirinya tidak menafikan nilai sejarah. Ia mengakui nama Raja Alam Sultan Alimuddin memiliki arti penting bagi Kesultanan Gunung Tabur dan Sambaliung, bahkan sempat mendukung usulan tersebut pada masa lalu.
Namun dinamika masyarakat, terutama warga Teluk Bayur, menunjukkan preferensi berbeda. Mayoritas tetap ingin nama Kalimarau dipertahankan karena sudah menjadi identitas lokal yang kuat.
“Nilai sejarah itu penting. Tapi aspirasi masyarakat juga harus dihormati. Warga Teluk Bayur sudah sangat melekat dengan nama Kalimarau,” ujarnya.
Daripada energi publik tersedot pada perdebatan nomenklatur, Rudi mengajak pemerintah daerah memprioritaskan hal yang lebih strategis: peningkatan fasilitas, layanan, dan kesiapan bandara agar benar-benar berdaya saing.
“Bukan berarti sejarah kita abaikan. Tapi kebutuhan pembangunan harus tetap diutamakan. Perubahan nama bandara jelas belum menjadi urgensi,” tutupnya. (rn/adv)





